Charlie's posts with tag: sites
|  | The Bung Karno Museum is the old house occupied by Soekarno during his years of exile in Ende. Most of the old furniture are still there. While was exiled in Ende, Soekarno wrote and held several plays, together with Tomel Kelimutu Theatre Group. Among the plays were Rendorua Ola Nggera Nusa (Rendo that stirred the archipelago) and Doctor Satan, a revision on the story of Dr. Frankenstein.
Article taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Ende,_Indonesia |
Ende is the capital of the Ende Regency, East Nusa Tenggara province of Indonesia. Ende is located on the southern coast of Flores Island. With a population of 60,000 residents,[citation needed] it is the biggest city on the island. Ende was the site of a kingdom that existed around the end of 18th century. The people of the area therefore known as Lio-Ende people. For many decades Ende has been a center of government, trade, education, and political activities. Rebellion against the Dutch was led by a certain Nipa Do known as the wars of Watu Api and Mari Longa (1916-1917). In 1934, the nationalist leader, Soekarno, who later became Indonesian first president was exiled to Ende by the Dutch colonial government. The town Ende lies at the foot of Iya, Ipi, Meja, and Wongge mountains. The beautiful bays of Ende, Ipi, and Mbuu are favorite places for beach recreation. Ende can be reached by aircraft from Kupang, or from Denpasar via Bima, or by boat from Surabaya or Kupang. The Bung Karno Museum is the old house occupied by Soekarno during his years of exile in Ende. Most of the old furniture are still there. While was exiled in Ende, Soekarno wrote and held several plays, together with Tomel Kelimutu Theatre Group. Among the plays were Rendorua Ola Nggera Nusa (Rendo that stirred the archipelago) and Doctor Satan, a revision on the story of Dr. Frankenstein. Near the football field in Ende stands a big breadfruit tree. Under the tree, Soekarno often sat, working on political ideas to lead Indonesia to independence. Those reflection contributed to the opening of Pancasila concept, which is now the state philosophy of Indonesia. From here Pancasila was born. Today, Pancasila Birth Monument stands on this place. Article taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Ende%2C_Indonesia ende 'the capital city of east nusa tenggara'--5Mb.wmv (26.9 MB)
A short walk through a foggy bamboo forest brings us to the site of Old Wogo where the ancestral megaliths (basically piles of large rock shards) of the current village still reside, one for each family group. For the Ngada, the family megalith provides an unmoving reference point from which to draw a sense of identity and belonging even if one moves away to a distant city. Article taken from http://web.mit.edu/jync/www/writing/flores.html wogo, site megalithicum in bajawa--5Mb.wmv (19.3 MB)
| Start: | May 30, '08 8:00p | | End: | Jun 1, '08 | | Location: | CIANJUR, JAWA BARAT |
Beberapa taon yang lalu gue juga dah pernah kesana dengan hanya segelinter rekan saja [ http://c10dean.multiply.com/photos/album/10/G._Padang_Trip_-_Situs_Megalith]. Tapi kali ini ada hampir 40 orang yang ikutan.....hehehe bedol kota neh keknye...seru?? iya lah..mosoq ya dong... Secara lagi rame2nya isu BBM melambung, jalan ke situs terbesar se Asia Tenggara ini teteubbbb dilaksanakan....pedehel ada 6 mobil yang akan brangkat kesana... Gue akan brangkat duluan dan nginep di rumah tante gue dulu di Cianjur, bareng Marley, Ricka, Mayang, David dan 2 orang temannya Mayang. Kloter pertama ini kebagian tugas untuk blanja logistik dulu di Cianjur hari sabtu paginya. Siang hari barulah kita akan bergabung sama temen2 laennya yang kurang lebih 30 orang jumlahya... Setelah koordinasi final semalam di FutKort Plangi, semua dah gak sabar mo brangkat.....can't hardly wait, ceeya..
sereun taun @ cirebon - recollected 25Mb.wmv (28.5 MB)
new year 2008 trip to tana toraja & makasar.wmv (46.2 MB)
journey to the center of sumatera earthquake 2nd - 15Mb.wmv (56.4 MB)
 Residen Thomas Parr (1705-1707) adalah penguasa Inggris kelima puluh satu yang diangkat pemerintah Inggris, Parr sampai di Bengkulu tanggal 27 September 1805, menggantikan Walter Ewer. Thomas Parr dikenal sebagai penguasa Inggris yang angkuh dan ganas, dia adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi dengan tanaman paksa di Bengkulu. Kekejaman dan keangkuhan Thomas Parr tidak saja dirasakan oleh penduduk pribumi tapi juga oleh orang-orang Bugis yang bekerja pada kompeni Inggris, bahkan juga dirasakan oleh pejabat Inggris lainnya. Parr juga dianggap terlalu jauh melangkah mencampuri urusan kepemimpinan tradisional dan adat masyarakat Bengkulu, seperti membuat pertentangan antara rakyat dengan pangeran Sungai Hitam serta peradilan. Puncak dari kebencian rakyat Bengkulu akhirnya tidak terbendung lagi pada malam 23 Desember 1807, Thomas Parr yang berada di rumah peristirahatannya Mount Felix tiga mil arah Selatan Marlborough dihabisi masa rakyat dibawah pimpinan Depati Sukarami, Depati Pagar Dewa dan Depati Lagan. Kesaksian dari isteri Parr menyebutkan tiga orang yang masuk kerumah membunuh Parr, asistennya Charles Murray yang berusaha melindungi majikannya terluka dan akhirnya meninggal, sementara dia sendiri hanya terluka. Dari kesaksian isteri Parr jelaslah bahwa tujuan penyerang hanyalah Thomas Parr. Sebagai pembalasan Inggris bertindak keji dan membabi buta, menghancurkan dusun-dusun di Sukarami, Pagar Dewa dan Lagan tanpa prikemanusiaan, bukan saja penduduk yang menjadi sasaran hewan ternakpun tidak luput dari amukan tentara Inggris yang kehilangan kendali. Pada tahun 1808 Inggris mendirikan Monumen untuk memperingati Thomas Parr yang terletak 100 meter dari Benteng Marlborough, dalam pembangunannya rakyat dipaksa dengan kekerasan agar pembangunannya dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Luas bangunan tugu ini seluas 70 meter persegi, tinggi 13,5 meter persis di depan kantor Pos Bengkulu. Monumen ini oleh rakyat Bengkulu disebut dengan Kuburan Bulek . Inggris mendirikan monument ini sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap Thomas Parr sementara bagi rakyat Bengkulu ditafsirkan sebagai penghargaan terhadap para pejuang tak dikenal yang telah mati dalam mempertahankan hak dan kemerdekaaan tanah leluhurnya dari penindasan kolonial Inggris. Kuburan Bulek ini juga merupakan simpul persatuan rakyat Bengkulu dalam melakukan protes dan air mata darah orang Bengkulu yang telah ditumpah paksakan oleh kesemenaan Inggris, juga merupakan tonggak sejarah yang mengandung nilai historis yang tidak ternilai bagi generasi sekarang. Makam Thomas dan para asistennya  di semayamkan di dalam Benteng Marlborough, yang katanya memang di pindahkan dari tempat asal mulanya untuk menghindari amarah rakyat Bengkulu saat itu yang membongkar makam tersebut
|  | FORT Marlborough dibangun Perusahaan India Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Benteng ini mengahadap selatan dan memiliki luas 44.100 meter persegi. Bentuk benteng abad XVIII (1914) ini menyerupai kura-kura. Pintu utama dikelilingi parit luas dan tersambung dengan jembatan ke gerbang dalam. Menurut masyarakat sekitar, benteng ini memiliki pintu keluar bawah tanah.
Fort Marlborough adalah peninggalan terbesar Inggris terbesar di Indonesia. Benteng Marlborough sesungguhnya bukan sekadar benteng pertahanan militer, karena ia dibangun demi kepentingan perdagangan; penjamin kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East India Company, serta pengawasan jalur pelayaran dagang melalui Selat Sunda. Benteng berperan ganda: markas pertahanan militer sekaligus kantor pusat perdagangan dan pemerintahan Inggris.
Bengkulu merupakan ibu kota wilayah presidensi (kumpulan wilayah residen) Inggris di pesisir barat Sumatera. Wilayah itu dikendalikan dari Benteng Marlborough. Inggris sebelumnya juga membangun benteng serupa dengan fungsi dan peran lebih besar di Madras, India, yaitu Fort St George. Dari Madras inilah, East India Company mengembangkan pengaruh ke Asia Pasifik, termasuk Bengkulu.
Fort Marlborough dihuni oleh pegawai sipil dan tentara Inggris. Dalam catatan British Library, Oriental and India Office Collections tahun 1792 terdapat 90 pegawai sipil dan militer tinggal dan bekerja dalam Benteng Marlborough. Para petinggi atau perwira senior tinggal dalam lingkungan benteng bersama keluarga. Benteng ini menyerupai hunian dalam kota kecil dengan tembok tebal. Seperti layaknya kehidupan bermasyarakat, catatan-catatan menyangkut perkawinan, pembaptisan, dan kematian "penduduk" benteng ini pun masih dapat tersimpan.
Desain tata ruang Benteng Marlborough mencerminkan keragaman aktivitas masyarakat. Kompleks bangunan ini 44.100,5 meter persegi, tetapi total bangunan dalam benteng hanya sekitar 20 persen. Bagian benteng selebihnya berfungsi sebagai ruang terbuka. Bangunan fisik Benteng Marlborough sangat kokoh, antara lain terbukti ketika gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter meluluhlantakkan ribuan bangunan gedung dan permukiman Bengkulu tahun 2000, benteng ini tak mengalami kerusakan berarti. Padahal, konstruksi benteng ini tidak menggunakan beton bertulang.
Desain dasar Benteng Marlborough berbentuk segi empat. Desain ini menyerupai kura-kura, ditandai dengan empat bagian bangunan menyudut seperti kaki, serta satu kelompok bangunan menyerupai bagian kepala kura-kura. Bagian atas bangunan ini tersambung melingkar menjadi pelataran penempatan meriam, sekaligus mempermudah mobilitas perpindahan meriam. Ciri lain benteng pertahanan ini adalah dua lapis dinding pertahanan, sehingga ketika dinding terdepan bisa ditembus lawan, pasukan bisa segera mundur dan melakukan pertahanan dari dinding kedua. Pembangunan benteng tahap pertama selesai 1718 dengan gerbang utama benteng di sisi barat. Bagian bangunan menyerupai kepala kura-kura kemudian ditambahkan pada 1783. Dengan penambahan ini sistem pertahanan gerbang benteng menjadi berlapis. Kekokohan benteng tergambar dari ketebalan dinding bagian luar setinggi 8,65 meter dan ketebalan tiga meter. Sementara tebal dinding dalam sekitar 1,8 meter. Bahan bangunan antara lain batu karang, batu kali, dan bata dengan perekat campuran kapur, pasir, dan semen merah.
Untuk memasuki benteng dari gerbang utama, kita harus melewati dua jembatan yang menyeberangi parit-parit kering. Parit itu berkedalaman sekitar 1,8 meter dengan lebar 3,6 meter. Jembatan-jembatan kayu di atas parit kering itu aslinya tidak pernah permanen agar dapat diangkat dalam menghambat gerak musuh. Selepas gerbang pertama, kita akan menyusuri lorong pendek dengan langit-langit melengkung. Empat buah batu nisan besar tertempel pada salah satu sisi bangunan lengkung ini. Batu-batu nisan ini merupakan tugu peringatan kematian sejumlah petinggi benteng, antara lain Deputi Gubernur Inggris Richard Watts—meninggal pada 1705. Meskipun tugu peringatan berbahasa Inggris itu tertulisdalam huruf bergaya kuno, tetapi sebagian besar masih terbaca dengan jelas.
Keluar dari bangunan lengkung selepas pintu masuk ini, kita akan menyusuri alur jalan pada ruang terbuka menuju jembatan kedua. Di sisi selatan jalan itu berjajar tiga buah makam, satu di antaranya makam Residen Thomas Parr—terbunuh Desember 1807. Adanya pemakaman itu menunjukkan fungsi benteng menampung seluruh aktivitas penghuni sejak lahir hingga meninggal. Melalui jembatan kedua berketinggian 3,25 meter dari dasar parit di bawahnya, sampailah pada pintu gerbang yang dikenal sebagai the great gate (gerbang utama). Daun pintu kayu pada gerbang kedua ini masih utuh meskipun sudah berumur hampir 300 tahun. Daun pintu ini memakai jenis kayu kapur konon berasal dari Kalimantan.
Tiga ruangan kita jumpai di sebelah kiri begitu melewati the great gate dulu difungsikan sebagai kediaman para perwira. Ruangan-ruangan ini pada 1873 difngsikan sebagai gudang senjata. Ruang pertama menyerupai lorong sepanjang 13,5 meter dengan lebar sekitar lima meter. Di dalamnya terdapat tiga "anak ruangan" berukuran sekitar 1,5 meter x 4,5 meter. Ruang ini seakan menyerupai lemari beton tebal. Di ujung lorong terdapat pintu turun menuju ke ruang bawah bangunan benteng. Gelap dan lembab pada ruang-ruang bawah memberi kesan penyusuran bagian benteng ini berbau petualangan. Ruang bawah ini disebutkan berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta.
Pada sisi lain gerbang masuk, kita akan menemui ruangan dengan fungsi ruang jaga utama maupun ruang penjaga benteng yang tidak sedang bertugas. Di bagian dalam, terdapat dua ruang tahanan militer. Pada salah satu bagian dinding ruang tahanan itu terlihat lukisan arang dan catatan dalam bahasa Belanda kuno, serta simbol kompas. Tulisan diperkirakan buatan tahanan dalam benteng.
Di sepanjang sayap selatan Benteng Marlborough terdapat deretan ruangan barak tidur. Masing-masing ruang memiliki satu pintu menghadap ke halaman dalam benteng. Meskipun terbuat dari jeruji besi, pintu-pintu ini berdesain lengkung dan terkesan cantik. Desain lengkung juga terlihat pada bagian langit-langit ruangan. Kompleks perkantoran terdapat di sayap utara benteng. Sebelum tahun 1780-an, sisi utara benteng ini difungsikan menjadi ruang keluarga pejabat sipil senior serta tempat tinggal perwira lajang. Sementara gudang dan kediaman gubernur terdapat di bagian barat. Pada zamannya, benteng ini dikelola oleh dewan pimpinan terdiri dari deputi gubernur sebagai kepala wilayah pendudukan, komandan benteng sebagai pemimpin militer, dibantu oleh dua pejabat. Pejabat tinggi lainnya adalah semacam kepala perdagangan (senior merchant). Pada 1792, tercatat 18 atase perdagangan berkantor di Fort Marlborough. Beberapa kepala perdagangan ini juga menjabat sebagai kepala wilayah atau residen sejumlah kawasan sepanjang pesisir barat Sumatera, antara lain Manna, Lais, Natal, Tapanuli, dan Krui. Pada 1792 tercatat sembilan orang juru tulis bekerja dan tinggal dalam benteng. Teknisi, petugas kesehatan, pemain organ, hingga tukang kayu pun menghuni benteng ini.
Di tengah benteng, terhampar halaman dalam berumput hijau dengan beberapa pepohonan teduh. Halaman dalam cukup luas ini berfungsi bagi beragam kegiatan militer pada masa itu, misalnya upacara dan latihan keterampilan. Di lapangan ini pula dibacakan keputusan pengadilan dan kesaksian eksekusi militer. Sementara bagian halaman teduh oleh pepohonan dengan pemandangan laut lepas, menjadi tempat bersantai. Jalan setapak menghubungkan gerbang utama bagian selatan dengan gerbang utara terdapat di tengah halaman. Pintu gerbang sisi utara ini pun disambungkan dengan jembatan kayu ke luar lingkungan benteng.
Dari atas dinding benteng atau bastion, teramati hamparan laut lepas. Untuk menaikkan meriam pada posisi tembak di bastion, dibangunlah beberapa bidang miring dari susunan bata di sudut-sudut benteng ini. Di bastion, kita juga dapat mengamati saluran etalase ruangan-ruangan seperti cerobong. Mulut cerobong itu diberi payung kerucut terbuat dari seng sehingga udara dapat bersirkulasi, namun terlindung dari curahan air. Menjelajahi benteng ini tidak akan lengkap tanpa menyusuri lorong-lorong di bawahnya. Lorong-lorong bawah tanah sempit dan gelap ini konon merupakan tempat penyimpanan senjata. Juga terdapat lorong bawah tanah yang menyambungkan benteng dengan jalan keluar tanpa melewati pintu-pintu gerbang.
Info tambahan: Benteng Marlborough ini adalah benteng Kerajaan Inggris terbesar di Asia Tenggara, juga digunakan sebagai basis militer Inggris untuk agresinya ke Singapura pada saat itu.
Di sisi barat luar benteng terdapat perkampungan kelompok etnis Cina (China Town) yang keberadaan mereka memang sudah diperhitungkan olhe pemerintah Inggris pada saat membangun benteng tersebut. Keberadaan mereka untuk menunjang tujuan perdagaangan di wilyah Bengkulu, bahkan tetap berlangsung hingga saat ini.
Tulisan ini dikutip dari http://mahmudiono.multiply.com/journal/item/39/, dan image courtesy dari givangkara.multiply.com/photos/album/100/ serta image contributor oleh Radiana ‘Ipaq’ Mahaga |
|  | Kota Bengkulu mungkin tidak lebih besar dari Jakarta Pusat, sehingga menebar virus ini tidaklah sulit dan dalam waktu relatif singkat sudah terasa existence-nya.
Di satu RM Padang kami bertemu dengan rombongan geo-researcher dari Jepang, dan kata salah seorang diantaranya tentu dalam bahasanya;"Ini optimisme yang positif, walaupun bencana tapi pariwisata tetap jalan.,,ne" |
| Start: | Aug 11, '07 01:00a | | End: | Aug 12, '07 8:00p | | Location: | PALEMBANG, SUMATERA SELATAN |
This trip has been cancelled for couple of time.....Now the schedule is on.... Ke Palembang nih weekend ini....waktunya juga gak banyak...... brangkat sabtu pagi pulang minggu sore.... ada yang punya ide gak?? di Palembang ada apa aja?? tempat wisata?? pantai? gunung? museum? bangunan tua?? kuliner?? ato apalah...
|  | Situs ini sudah ada sejak zaman pra-sejarah (zaman batu), tapi yang menarik adalah cerita-cerita legenda daerah setempat. Konon ini adalah istana tempat pertunjukan kesenian, dapat dilihat pada tingkat/lantai yang pertama. Pada tingkat yang lebih atas lagi terdapat pemakaman para leluhur seperti panji siliwangi…mbah ini…mbah itu…yang dikaitkan dengan ratu pantai selatan. Kehadiran panji siliwangi sendiri ditandai dengan adanya bekas telapak kaki macan pada salah satu batu.
Secara struktural bentuk ini memiliki 5 tingkat/lantai, yang setiap lantainya ditandai dengan bentuk bebatuan segi lima pada sisinya.
|
| |