Charlie's posts with tag: grave
|  | This ancient cemetery of Minahasan ancestors consist of 144 stone sarcophagi, remnants of the Megalithic age. "Waruga" sarcophagi are unique square stone with holes in the middle and prism shaped lids. The tombs are carved with various motifs such as human beings, plants, animals, and traditional geometrical motifs like clouds, strings, curls and double braids. The cemetery is located in Sawangan village, about 24 km from Manado.
Waruga is a stone grave made of domato stone or mountain stone. Some warugas are already hundreds of years old, some of them are 500 years old, and some are even 1,200 years old. In 1817, the warugas were collected, and they were all 144 warugas. All over Minahasa, there are 2,000 warugas. The making of waruga was prohibited in 1800 because of the spreading of cholera and typhoid which might be caused by the unpleasant smell coming out of the warugas. Since then, dead people have been buried under the ground.
Waruga is the traditional cemetery of Minahasan. That time, everybody made their own warugas. On the warugas they carved motifs which reflected each of their occupations. If the person was a judge, then the motif was court of justice. In the cemetery, there is a waruga with the motif of a woman giving birth to a child. It is said that it is the grave of a midwive. According to the local belief, childless couple could have children if they visit the midwive's waruga.
The way to do a funeral: When a person dies, then the corpse will be seated on a chair and tied there until it is stiff. After that, the corpse is untied, then it is brought to circle the house three times as a symbol that the person is no longer among his/her family, but in another world. The corpse then put into waruga with a plate under it, and all his/her beloved things (such as: blade, glass, bracelet, necklace, beads, pendant, etc) are also put inside waruga.
Waruga Museum Ceramic plates which were buried inside warugas in Manado, displayed in Waruga Museum
article sources: http://www.petra.ac.id/eastern/north_sul/tour_obj/waruga.htm http://www.petra.ac.id/eastern/north_sul/tour_obj/waru_mus.htm
other link: http://gried.multiply.com/photos/album/104/Taman_Purbakala_WARUGA_Minahasa_-_Feb_2008_39_photos |
new year 2008 trip to tana toraja & makasar.wmv (46.2 MB)
|  | Lo'ko' Mata (Lokomata) mengambil posisi di lerang gunung Sesean pada ketinggian ± 1.400 m di atas permukaan laut. Suatu tempat yang sangat menawan, fantastik dan bila seseorang datang dan menyaksikan serta merenungkan ciptaan ini rasa kangen pasti ada. Selain itu anda dapat menyaksikan panorama alam yang sangat indah dan deru arus sungai di bawah kaki kuburan alam ini. Yang terletak di desa Pangden ± 30 km dari kota Rantepao.
Nama Lo'ko' Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo'ko' Mata sebelumnya bernama Dassi Dewata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya, dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan.
Pada abad ke 14 (1480) datanglah pemuda Kiding memahat batu raksasa ini untuk makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik (I) selanjutnya pada abad 16 tahun 1675 lubang rang ke II dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad ke 17 lubang yang ke III dibuat oleh Rubak dan Datu Bua'. Liang pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad ke / (milenium III). Luas areal obyek wisata. Lo'ko' Mata ± 1 ha dan semua lubang yang ada sekitar 60 buah.
refeerence link http://yenceu.multiply.com/photos/album/324/Loko_Mata_yang_Hijau http://ndry.multiply.com/photos/album/45 |
|  | Ke'te' Kesu' adalah obyek wisata yang sudah populer diantara turis domestik dan asing sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak 4 km dari Kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya dengan nomor registrasi 290 yang perlu dilestarikan / dilindungi. obyek wisata ini sangat menarik, oleh karena memiliki suatu kompleks perumahan adat Toraja yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang Sura' (lumbung padinya).
Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu' di fungsikan sebagai tempat bermusyawarah, mengelolah, menetapkan dan melaksanakan aturan-aturan adat, baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat di daerah Kesu', dan juga di seluruh Tana Toraja, yang disebut aluk Sanda Pitunna (7777). Obyek wisata ini dilengkapi pula dengan areal; upacara pemakaman (rante), kuburan (liang) purba dan makam-makam modern, namun tetap berbentuk motif khas Toraja, pemukiman, perkebunan dan persawahan yang cantik dan menyejukkan hati. Sekaligus para pengunjung dapat menyaksikan seni ukir Toraja di lokasi ini.
reference link http://ndry.multiply.com/photos/album/45 http://yenceu.multiply.com/photos/album/321 |
|  | Londa adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung (tau-tau). Di dalamnya terdapat gua dengan banyak tengkorak kepala manusia. obyek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalangi' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke selatan, adalah kuburan alam purba. Gua yang tergantung itu, menyimpan misteri yakni erong puluhan banyaknya, dan penuh berisikan tulang dan tengkorak para leluhur, tau-tau. Tau-tau adalah pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja terbaik telah dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tallulolo. Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan ± 1.000 m jauh kedalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang sudah terlatih dan profesional.
Kuburan alam purba ini dilengkapi dengan sebuah "Benteng Pertahanan". Patabang Bunga yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas punggung gua alam ini. obyek ini sangat mudah dikunjungi, oleh karena sarana dan prasarana jalannya baik. Satu hal perlu diingat bahwa seseorang yang berkunjung ke obyek ini, wajib memohon izin dengan membawa sirih pinang, atau kembang. Sangat tabu/pemali (dilarang keras) untuk mengambil atau memindahkan tulang, tengkorak, atau mayat yang ada dalam gua ini.
reference link http://ndry.multiply.com/photos/album/45 http://yenceu.multiply.com/photos/album/318 |
|  | Pada mulanya Desa Tondon lasim disebut Mesa' Ba'bana Tondon Apa' Tepona Padang, yaitu Tondok Batu, Siba'ta, Kondo' dan Langi'. Sangpulo dua Karopi'na itulah Desa Tondon, yang dipimpin oleh dua pemangku adat yang lazim disebut Toparenge', yaitu Marante dan Barang Bua'. Fungsi Toparenge' disini adalah memimpin segala kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat baik itu upacara pesta syukur (Rambu Tuka') maupun upacara pesta pemakaman (Rambu Solo'), juga penentu kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam masyarakat. Seiring dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia.
Sejak itu juga Marante terpilih sebagai salah satu obyek wisata yang ada di Tana Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak pada jalan poros dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak jauh dari kota Rantepao yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung ke Marante, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara/domestik
Obyek wisata Marante memiliki banyak daya tarik peninggalan-peninggalan kuno yaitu berupa; - Rumah adat (rumah tongkonan) - Patung-patung (tau-tau) - Erong - Kuburan batu/liang pahat - Patane (kuburan kayu)
reference link http://yenceu.multiply.com/photos/album/320 http://ndry.multiply.com/photos/album/45 |
| |