Charlie's posts with tag: buildings

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag buildings
VideoPARADISE IN MINAHASA, FEBRUARY 2008 - 25MbFeb 19, '08 11:53 AM
for everyone


paradise in minahasa - Feb 2008-25Mb.wmv (53.9 MB)


Videosegarra cafe.wmvJan 18, '08 3:14 PM
for everyone


segarra cafe.wmv (12.6 MB)

Videodavey on the top of jakarta - monas scene.wmvJan 18, '08 2:54 PM
for everyone


davey on the top of jakarta - monas scene.wmv (22.7 MB)

Videonew year 2008 trip to tana toraja & makasar.wmvJan 18, '08 2:33 PM
for everyone


new year 2008 trip to tana toraja & makasar.wmv (46.2 MB)

Videoa rally trip to east java - Dec'2007Jan 14, '08 10:23 AM
for everyone


a rally trip to east java - Dec'2007.wmv (48.1 MB)

Photo AlbumTONDON - NEAR SANTY'S HOUSE (14 photos)Jan 6, '08 4:27 AM
for everyone

Photo AlbumBATU TUMONGGA (4 photos)Jan 6, '08 4:09 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. Kebanyakan dari batu menhir itu berukuran dua sampai tiga meter tingginya. Pemandangan yang sangat mempesona di atas Rantepao dan lembah disekitarnya, dapat dilihat dari tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi.

reference link
http://ndry.multiply.com/photos/album/45
http://yenceu.multiply.com/photos/album/317/Dingin_dan_Hijau-nya_Batu_Tumonga

Photo AlbumBENTENG FORT ROTTERDAM (6 photos)Jan 6, '08 2:41 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Makasar or used to call Ujung Pandang is the town flourished as the port and trading centre for the mediaeval kingdom of Goa. The old fort (benteng) of Makassar was one of the 11 Goanese strong holds when it was first erected in 1545. The Dutch conquered and reconstructed it in 1667, renaming it Benteng Rotterdam. With its interior church and trading offices, it stands as an excellent example of 17th-century Dutch fortress architecture. The fort now houses the Museum Provincial Makassar, with displays of old ceramics, manuscripts, coins, musical instruments and ethnic costumes.

And there is a famous dungeon – in the south-west corner of the fort – where one of Indonesia’s national heroes. Prince Diponegoro of Yogyakarta (1785-1855), was imprisoned for 27 years after defying both the Dutch and his own family by leading a series of popular uprisings in Central Java between 1825 and 1830. Outside the fort is a statue of the hero on horseback. The tomb of Diponegoro is located in the middle of town on a street which carries his name.

reference links
http://ndry.multiply.com/photos/album/47
http://yenceu.multiply.com/photos/album/312

Photo AlbumHOUSE OF SAMPOERNA (6 photos)Jan 6, '08 1:32 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Situated in “old Surabaya”, this stately Dutch colonial style compound was built in 1858 and is now a preserved historical site.

The building that now serves as the museum was surplus to requirements when Sampoerna first purchased the factory, and so was turned into a theater. Charlie Chaplin performed there some time in 1932, and it was here that the future president Sukarno made speeches in 1932. The museum is laid out over two floors. The first floor is a series of galleries covering the history of the family, the company and memorabilia from the company's early days.

Previously used as an orphanage managed by the Dutch, it was purchased in 1932 by Liem Seeng Tee, the founder of Sampoerna, with the intent of it being used as Sampoerna's first major cigarette production facility.

This complex consisted of a wide central auditorium, two smaller buildings in east wing and occidental and some wide barns with one floor behind central auditorium. The buildings that stay in both auditorium wings is then turned into family house, whereas big barns looks like a warehouse exploited for tobacco and clove processing, to catch, stick it and packing, printing office and finished goods processor.

Today, the compound is still functioning as a production plant for Indonesia's most prestigious cigarette, Dji Sam Soe. In commemoration of Sampoerna's 90th anniversary in 2003, the central complex has been painstakingly restored and is now open to public.

The original central auditorium is now a museum and the east side has been transformed into a unique structure containing a café, a merchandise kiosk and an arts gallery. The building on the west side remains the official family residence.

Museum
House of Sampoerna (HoS) Museum offers a truly unique experience for visitors. From the story of the founding family to closely watching a real hand roll production facility and ending up with an unforgettable experience of rolling a stick of Dji Sam Soe cigarette. You can join 3,900 women in this plant, hand-rolling cigarettes using traditional equipment. They do it at a speed of more that 325 stick per hour.

Shop Museum in HoS offer is assorted souvenirs, such as; the miniature of stick equipment traditional cigarette, package, clove, books and shirt.

Kiosk
Kiosk in House of Sampoerna ready to supply you with various goods choices such as; cup, shirt, jacket, ashtray, hat, bag, etc. This goods suited for used for you also for a souvenir.

Cafe
With Art Deco touch, free creativity glint and the history, cafe offers an experience to dine unique. Ally original tin glass and teak panel carve that aged a century with modern design is cleanness. Multifarious occidental appetite dish and Asian drawn up to be special to gratify visitor appetite, even for they who a real critical to taste. At certain night, life music will accompany your diner.

Artistic Gallery
Dedicate with refer to exhibition of best Indonesia actor masterpiece and provide place to all cute young actor to perform their masterpiece. This Gallery presents certifiable masterpiece which only available to display and also to be sold.

Group Of Sampoerna Business
Sampoerna is build convergent at tobacco and clove business. This company is one of cigarette producer (tobacco and clove) most fast growing and the eldest in Indonesia, the fourth biggest cigarette market in the world.

Build in 1913; Sampoerna is the first Cigarette Company stepping into Jakarta stock exchange. Sampoerna have successfully developed its business for its cigarette to various regions outside Indonesia and do diversification inside the country, in distribution area and transportation, printing office and packaging and retail merchandising and grocery.

article taken from http://www.eastjava.com/tourism/surabaya/house-of-sampoerna.html

other
http://wndarini.multiply.com/photos/album/73?mark_read=wndarini:photos:73
http://teezone.multiply.com/photos/album/41?mark_read=teezone:photos:41
http://mameta.multiply.com/photos/album/15?mark_read=mameta:photos:15
http://echinodermata.multiply.com/photos/album/40?mark_read=echinodermata:photos:40

Blog EntryTUGU THOMAS PARR, remembering the evilDec 2, '07 9:07 PM
for everyone
Residen Thomas Parr (1705-1707) adalah penguasa Inggris kelima puluh satu yang diangkat pemerintah Inggris,  Parr sampai di Bengkulu tanggal 27 September 1805, menggantikan Walter Ewer. Thomas Parr dikenal sebagai penguasa Inggris yang angkuh dan ganas, dia adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi dengan tanaman paksa di Bengkulu. 

Kekejaman dan keangkuhan Thomas Parr tidak saja dirasakan oleh penduduk pribumi tapi juga oleh orang-orang Bugis yang bekerja pada kompeni Inggris, bahkan juga dirasakan oleh pejabat Inggris lainnya. Parr juga dianggap terlalu jauh melangkah  mencampuri urusan kepemimpinan tradisional dan adat masyarakat Bengkulu, seperti membuat pertentangan antara rakyat dengan pangeran Sungai Hitam serta peradilan.

Puncak dari kebencian rakyat Bengkulu akhirnya tidak terbendung lagi pada malam  23 Desember 1807, Thomas Parr yang berada di rumah peristirahatannya Mount Felix tiga mil arah Selatan Marlborough dihabisi masa rakyat dibawah pimpinan Depati Sukarami, Depati Pagar Dewa dan Depati Lagan. Kesaksian dari  isteri Parr menyebutkan tiga orang yang masuk kerumah membunuh Parr,  asistennya Charles Murray yang berusaha melindungi majikannya terluka dan akhirnya meninggal, sementara dia sendiri hanya terluka.  Dari kesaksian isteri Parr jelaslah bahwa tujuan penyerang hanyalah Thomas Parr.

Sebagai pembalasan Inggris bertindak keji dan membabi buta, menghancurkan dusun-dusun di Sukarami, Pagar Dewa dan Lagan tanpa prikemanusiaan, bukan saja penduduk yang menjadi sasaran hewan ternakpun tidak luput dari amukan tentara Inggris yang kehilangan kendali.

Pada tahun 1808 Inggris mendirikan Monumen untuk memperingati Thomas Parr yang terletak 100 meter dari Benteng Marlborough, dalam pembangunannya rakyat dipaksa dengan kekerasan  agar pembangunannya dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Luas bangunan tugu ini seluas 70 meter persegi, tinggi 13,5 meter persis di depan kantor Pos Bengkulu.  Monumen ini oleh rakyat Bengkulu disebut dengan Kuburan Bulek . Inggris mendirikan monument ini sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap Thomas Parr sementara bagi rakyat Bengkulu ditafsirkan sebagai penghargaan terhadap para pejuang tak dikenal yang telah mati dalam  mempertahankan hak dan kemerdekaaan tanah leluhurnya dari penindasan kolonial Inggris. Kuburan Bulek ini juga merupakan simpul persatuan rakyat Bengkulu dalam melakukan protes dan air mata darah orang Bengkulu yang telah ditumpah paksakan oleh kesemenaan Inggris, juga merupakan tonggak sejarah yang mengandung nilai historis yang tidak ternilai bagi generasi sekarang.

Makam Thomas dan para asistennya
di semayamkan di dalam
Benteng Marlborough, yang katanya memang di pindahkan dari tempat asal mulanya untuk menghindari amarah rakyat Bengkulu saat itu yang membongkar makam tersebut

Photo AlbumFORT MARLBOROUGH (54 photos)Nov 29, '07 8:35 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
FORT Marlborough dibangun Perusahaan India Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Benteng ini mengahadap selatan dan memiliki luas 44.100 meter persegi. Bentuk benteng abad XVIII (1914) ini menyerupai kura-kura. Pintu utama dikelilingi parit luas dan tersambung dengan jembatan ke gerbang dalam. Menurut masyarakat sekitar, benteng ini memiliki pintu keluar bawah tanah.

Fort Marlborough adalah peninggalan terbesar Inggris terbesar di Indonesia. Benteng Marlborough sesungguhnya bukan sekadar benteng pertahanan militer, karena ia dibangun demi kepentingan perdagangan; penjamin kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East India Company, serta pengawasan jalur pelayaran dagang melalui Selat Sunda. Benteng berperan ganda: markas pertahanan militer sekaligus kantor pusat perdagangan dan pemerintahan Inggris.

Bengkulu merupakan ibu kota wilayah presidensi (kumpulan wilayah residen) Inggris di pesisir barat Sumatera. Wilayah itu dikendalikan dari Benteng Marlborough. Inggris sebelumnya juga membangun benteng serupa dengan fungsi dan peran lebih besar di Madras, India, yaitu Fort St George. Dari Madras inilah, East India Company mengembangkan pengaruh ke Asia Pasifik, termasuk Bengkulu.

Fort Marlborough dihuni oleh pegawai sipil dan tentara Inggris. Dalam catatan British Library, Oriental and India Office Collections tahun 1792 terdapat 90 pegawai sipil dan militer tinggal dan bekerja dalam Benteng Marlborough. Para petinggi atau perwira senior tinggal dalam lingkungan benteng bersama keluarga. Benteng ini menyerupai hunian dalam kota kecil dengan tembok tebal. Seperti layaknya kehidupan bermasyarakat, catatan-catatan menyangkut perkawinan, pembaptisan, dan kematian "penduduk" benteng ini pun masih dapat tersimpan.

Desain tata ruang Benteng Marlborough mencerminkan keragaman aktivitas masyarakat. Kompleks bangunan ini 44.100,5 meter persegi, tetapi total bangunan dalam benteng hanya sekitar 20 persen. Bagian benteng selebihnya berfungsi sebagai ruang terbuka. Bangunan fisik Benteng Marlborough sangat kokoh, antara lain terbukti ketika gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter meluluhlantakkan ribuan bangunan gedung dan permukiman Bengkulu tahun 2000, benteng ini tak mengalami kerusakan berarti. Padahal, konstruksi benteng ini tidak menggunakan beton bertulang.

Desain dasar Benteng Marlborough berbentuk segi empat. Desain ini menyerupai kura-kura, ditandai dengan empat bagian bangunan menyudut seperti kaki, serta satu kelompok bangunan menyerupai bagian kepala kura-kura. Bagian atas bangunan ini tersambung melingkar menjadi pelataran penempatan meriam, sekaligus mempermudah mobilitas perpindahan meriam. Ciri lain benteng pertahanan ini adalah dua lapis dinding pertahanan, sehingga ketika dinding terdepan bisa ditembus lawan, pasukan bisa segera mundur dan melakukan pertahanan dari dinding kedua.

Pembangunan benteng tahap pertama selesai 1718 dengan gerbang utama benteng di sisi barat. Bagian bangunan menyerupai kepala kura-kura kemudian ditambahkan pada 1783. Dengan penambahan ini sistem pertahanan gerbang benteng menjadi berlapis. Kekokohan benteng tergambar dari ketebalan dinding bagian luar setinggi 8,65 meter dan ketebalan tiga meter. Sementara tebal dinding dalam sekitar 1,8 meter. Bahan bangunan antara lain batu karang, batu kali, dan bata dengan perekat campuran kapur, pasir, dan semen merah.

Untuk memasuki benteng dari gerbang utama, kita harus melewati dua jembatan yang menyeberangi parit-parit kering. Parit itu berkedalaman sekitar 1,8 meter dengan lebar 3,6 meter. Jembatan-jembatan kayu di atas parit kering itu aslinya tidak pernah permanen agar dapat diangkat dalam menghambat gerak musuh. Selepas gerbang pertama, kita akan menyusuri lorong pendek dengan langit-langit melengkung. Empat buah batu nisan besar tertempel pada salah satu sisi bangunan lengkung ini. Batu-batu nisan ini merupakan tugu peringatan kematian sejumlah petinggi benteng, antara lain Deputi Gubernur Inggris Richard Watts—meninggal pada 1705. Meskipun tugu peringatan berbahasa Inggris itu tertulisdalam huruf bergaya kuno, tetapi sebagian besar masih terbaca dengan jelas.

Keluar dari bangunan lengkung selepas pintu masuk ini, kita akan menyusuri alur jalan pada ruang terbuka menuju jembatan kedua. Di sisi selatan jalan itu berjajar tiga buah makam, satu di antaranya makam Residen Thomas Parr—terbunuh Desember 1807. Adanya pemakaman itu menunjukkan fungsi benteng menampung seluruh aktivitas penghuni sejak lahir hingga meninggal. Melalui jembatan kedua berketinggian 3,25 meter dari dasar parit di bawahnya, sampailah pada pintu gerbang yang dikenal sebagai the great gate (gerbang utama). Daun pintu kayu pada gerbang kedua ini masih utuh meskipun sudah berumur hampir 300 tahun. Daun pintu ini memakai jenis kayu kapur konon berasal dari Kalimantan.

Tiga ruangan kita jumpai di sebelah kiri begitu melewati the great gate dulu difungsikan sebagai kediaman para perwira. Ruangan-ruangan ini pada 1873 difngsikan sebagai gudang senjata. Ruang pertama menyerupai lorong sepanjang 13,5 meter dengan lebar sekitar lima meter. Di dalamnya terdapat tiga "anak ruangan" berukuran sekitar 1,5 meter x 4,5 meter. Ruang ini seakan menyerupai lemari beton tebal. Di ujung lorong terdapat pintu turun menuju ke ruang bawah bangunan benteng. Gelap dan lembab pada ruang-ruang bawah memberi kesan penyusuran bagian benteng ini berbau petualangan. Ruang bawah ini disebutkan berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta.

Pada sisi lain gerbang masuk, kita akan menemui ruangan dengan fungsi ruang jaga utama maupun ruang penjaga benteng yang tidak sedang bertugas. Di bagian dalam, terdapat dua ruang tahanan militer. Pada salah satu bagian dinding ruang tahanan itu terlihat lukisan arang dan catatan dalam bahasa Belanda kuno, serta simbol kompas. Tulisan diperkirakan buatan tahanan dalam benteng.

Di sepanjang sayap selatan Benteng Marlborough terdapat deretan ruangan barak tidur. Masing-masing ruang memiliki satu pintu menghadap ke halaman dalam benteng. Meskipun terbuat dari jeruji besi, pintu-pintu ini berdesain lengkung dan terkesan cantik. Desain lengkung juga terlihat pada bagian langit-langit ruangan. Kompleks perkantoran terdapat di sayap utara benteng. Sebelum tahun 1780-an, sisi utara benteng ini difungsikan menjadi ruang keluarga pejabat sipil senior serta tempat tinggal perwira lajang. Sementara gudang dan kediaman gubernur terdapat di bagian barat.
Pada zamannya, benteng ini dikelola oleh dewan pimpinan terdiri dari deputi gubernur sebagai kepala wilayah pendudukan, komandan benteng sebagai pemimpin militer, dibantu oleh dua pejabat. Pejabat tinggi lainnya adalah semacam kepala perdagangan (senior merchant). Pada 1792, tercatat 18 atase perdagangan berkantor di Fort Marlborough. Beberapa kepala perdagangan ini juga menjabat sebagai kepala wilayah atau residen sejumlah kawasan sepanjang pesisir barat Sumatera, antara lain Manna, Lais, Natal, Tapanuli, dan Krui. Pada 1792 tercatat sembilan orang juru tulis bekerja dan tinggal dalam benteng. Teknisi, petugas kesehatan, pemain organ, hingga tukang kayu pun menghuni benteng ini.

Di tengah benteng, terhampar halaman dalam berumput hijau dengan beberapa pepohonan teduh. Halaman dalam cukup luas ini berfungsi bagi beragam kegiatan militer pada masa itu, misalnya upacara dan latihan keterampilan. Di lapangan ini pula dibacakan keputusan pengadilan dan kesaksian eksekusi militer. Sementara bagian halaman teduh oleh pepohonan dengan pemandangan laut lepas, menjadi tempat bersantai. Jalan setapak menghubungkan gerbang utama bagian selatan dengan gerbang utara terdapat di tengah halaman. Pintu gerbang sisi utara ini pun disambungkan dengan jembatan kayu ke luar lingkungan benteng.

Dari atas dinding benteng atau bastion, teramati hamparan laut lepas. Untuk menaikkan meriam pada posisi tembak di bastion, dibangunlah beberapa bidang miring dari susunan bata di sudut-sudut benteng ini. Di bastion, kita juga dapat mengamati saluran etalase ruangan-ruangan seperti cerobong. Mulut cerobong itu diberi payung kerucut terbuat dari seng sehingga udara dapat bersirkulasi, namun terlindung dari curahan air. Menjelajahi benteng ini tidak akan lengkap tanpa menyusuri lorong-lorong di bawahnya. Lorong-lorong bawah tanah sempit dan gelap ini konon merupakan tempat penyimpanan senjata. Juga terdapat lorong bawah tanah yang menyambungkan benteng dengan jalan keluar tanpa melewati pintu-pintu gerbang.

Info tambahan:
Benteng Marlborough ini adalah benteng Kerajaan Inggris terbesar di Asia Tenggara, juga digunakan sebagai basis militer Inggris untuk agresinya ke Singapura pada saat itu.

Di sisi barat luar benteng terdapat perkampungan kelompok etnis Cina (China Town) yang keberadaan mereka memang sudah diperhitungkan olhe pemerintah Inggris pada saat membangun benteng tersebut. Keberadaan mereka untuk menunjang tujuan perdagaangan di wilyah Bengkulu, bahkan tetap berlangsung hingga saat ini.

Tulisan ini dikutip dari http://mahmudiono.multiply.com/journal/item/39/, dan
image courtesy dari givangkara.multiply.com/photos/album/100/ serta
image contributor oleh Radiana ‘Ipaq’ Mahaga

Photo AlbumLONG ROAD TO PURWOKERTO (10 photos)Sep 5, '07 10:07 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Habis lunch Soto Sokaraja di Purwokerto, rombongan mampir di rumah kediaman pamannya Ririn. Di rumah itu sempet motoin laba-laba yang ukurannya kira ukuran panjangnya 10cm (thank you for Bernard for invite me to watch it).

45 menit kemudian rombongan sudah meluncur lagi menuju Cilacap, bahkan berhenti di Bendung Gerak Serayu untuk foto-foto....halah, narcist lagi neh...

Sepanjang jalan ke Cilacap kami disuguhi Karnaval Kemerdekaan sepanjang 1,5KM...macem2 aja ulah dan penampilan mereka...

Photo AlbumLAWANG SEWU (23 photos)Sep 5, '07 10:03 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sebelum gue ke terminal bis, karena dah janjian ketemu sama rombongan 'MERDEKA TRIP' di Tegal, gue mampir ke 'LAWANG SEWU' atau A Thousand Doors.

Bangunan ini didirikan oleh Pemerintah Belanda tahun 1920 pusat kegiatan mereka. Bahkan juga menjadi markas AD-nya Jepang di jaman setelah itu pada saat PD2. Terbukti ada bagian-bagian bangunan yang rusak karena terkena mortir.

Tahun 60-an diambil oleh pemerintah RI dan hingga sekarang menjadi miliknya PT PJKA. Hingga tahun 1998 sempat menjadi hotel berbintang (rumornya milik Kel. Cendana). Karena sang penguasa pada saat itu lengser maka pengelolaannya pun diserahkan kembali ke PT PJKA hingga sekarang terbengkalai...kurang terawat dengan baik...kotor...kelelawar menggantung dimana-mana...bahkan terkesan SEREM alias SPOOKY....

Hmmm...sayang yah....pemerintah dan masyarakat setempat kurang mengapresiasi asset sejarah ini...

Gue dianter keliling bangunan oleh penjaga bangunan ini ke setiap sudut bangunan, tapi dia menolak untuk nganterin gue ke lantai bawah tanah (rumornya tempat pembantai para ekstrimis)........alasannya lagi banjir penuh dengan air.... I hope this will scare you...

Waktu ditanya kalo tempat ini serem beliau cuma bilang..;"ah...enggak koq". Banyak orang yang suka dateng melihat-lihat tempat ini (kebetulan memang saat itu gue juga berpapasan dengan beberapa rombongan yang berkunjung), ada juga yang minta untuk dibuat acara pameran dll....pikir gue;"Hmmm menarik juga kalo bikin pameran foto disini...."...*tuing..tuing...*

Bahkan ..lanjut katanya;"Saya sering diminta nganter tamu yang datang jam 1 ato 2 malem untuk melihat-lihat dalam gedung ini"....weleh???

Yang menarik, pada saat kita masuk dari pintu utama, akan kita temui 'void-main hall' dengan tangga besar memutar menuju lantai 2 (seperti victorian building). Gue langsung disuguhin dengan cantiknya mozaik ato kaca patri, katanya sang penjaga;"Kaca patri ini pernah ditawar oleh seorang pengusaha dengan nilai lebih dari 2 Milyar".....trus? lanjut gue bertanya.....jawabnya:"Ya gak dikasih Pak...". dalam hati gue;"Bagus-bagus..."

Gue gak ngerti dengan orang-orang macem itu mentang-mentang punya duit banyak sampe-sampe asset sejarah sebuah negara RI pun mau dibeli.

Enjoy watching Mozaik from the 19th century...

other reference:
http://riesza.multiply.com/photos/album/33/Lawang_Sewu_Misteriusnya_sebuah_gedung_kuno_berpintu_seribu

Photo AlbumOLD TOWN (24 photos)Sep 5, '07 9:53 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Pagi-pagi, setelah orang selesai upacara 17-an gue langsung panggil becak untuk keliling kota tua 'OLD TOWN'...hehehehe...malu ati gak ngekot upacaraan...

Well anyway, foto ini hanya sebagian dari area kota tua, karena waktu yang amat terbatas cuma ini yang bisa gue dapet...padahal masih banyak lagi yang bisa diambil..masih ada pelabuhan tua, dan terminal kereta...

Disekitar wilayah ini ada area yang namanya SEMAWIS (dahulu kala kota Semarang dikenal dengan nama ini), ini adalah 'china-town' seperti Pecenongan di JKT. Di daerah inilah dulunya pusat bisnis dan perdagangan. Dan sekarang kalo pada malam harinya jadi tempat wisata kulinari yang populer.

gue malah papasan sama crew TV-7 yang dikiranya gue orang setempat...masaq dia gak liat gue nenteng-nenteng kamera??

....abis ini ke Lawang Sewu ah....;"Mas ayo Mas genjot ke Lawang Sewu yah..."

Photo AlbumBENTENG PENDEM (9 photos)Sep 5, '07 9:32 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
50 tahun setelah Gn. Krakatau meletus (1828) benteng ini dibangun untuk mengantipasi serang musuh (Portugis) yang datang dari arah laut. Dulunya, batas benteng ini dengan bibir pantai hanya beberapa meter saja, tapi sekarang jaraknya sudah lebih dari 100 meter ke bibi pantai.

Koq namanya Benteng Pendem? karena Tentara Belanda ingin benteng ini tidak terlihat dari kejauhan laut, sehingga dipendamlah bangunan ini dengan tanah yang dikerjakan oleh para pribumi pada saat itu.

Selain barak prajurit, ruang klinik, halaman pelatihan tembak, ruang kerja prajurit terdapat juga ruang penjara pribumi yang dianggap ekstrimis, ruang bidik senapan (sniper hole) maupun ruangan canon ball. Semua ruangan ini saling berhubungan untuk pelarian para tentara kalau dalam keadaan terdesak bisa kabur....

Saking tempat ini serem, Trans-TV dengan 'Dunia Lain' pernah beberapa kali melakukan shooting di salah satu ruangan, yaitu dilam ruangan Komandan Jendral...

Yang menarik buat gue adalah; ada penjara pribumi yang tebalnya 75cm tampak jebol karena dibuat lubang untuk kabur oleh para napi tersebut. Bayangkan tebalnya dinding itu, bukan itu saja cara penyusunan bata pun dibuat sejajar panjang dan bukan sejajar lebar.....

2 tahun yang lalu gue dateng kesini sedang dipugar, dan sekarang sepertinya pemugaranya sudah selesai seadanya..

Photo AlbumMUSI RIVER (7 photos)Aug 16, '07 1:18 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Sungai Musi adalah sebuah sungai yang terletak di Propinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Dengan panjang 750 km, sungai ini merupakan yang terpanjang di Pulau Sumatra. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, sungai ini terkenal sebagai sarana utama transportasi masyarakat.

Di tepi Sungai Musi terdapat Pelabuhan Boom Baru dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan: Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai Musi, bersama dengan sungai lainnya, membentuk sebuah delta di dekat Kota Sungsang.

Mata airnya bersumber di daerah Kepahiang, Bengkulu. Sungai Musi merupakan muara sembilan anak sungai besar, yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan.

Lahan seluas 3 juta ha di daerah aliran sungai (DAS) Musi dianggap kritis akibat maraknya penebangan liar. Kondisi ini dapat memicu banjir bandang dan tanah longsor.

Photo AlbumAMPERA BRIDGE & KUTA BESA PORT (8 photos)Aug 16, '07 1:08 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Propinsi Sumatera Selatan merupakan suatu kawasan seluas 99.888 kilometer persegi di Indonesia Bagian Barat yang terletak di sebelah Selatan garis khatulistiwa pada 1-4 derajat lintang Selatan dan 102-108 derajat bujur timur.

Bagian daratan propinsi ini berbatas dengan propinsi Jambi di sebelah Utara. Propinsi Lampung di Selatan dan propinsi Bengkulu dibagian Timur dibatasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sumatera Selatan dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya karena wilayah ini pada abad 7-12 Masehi merupakan pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia yang berpengaruh sampai ke Formosa dan Cina di Asia serta Madagaskar di Afrika.

Disamping itu, Sumatera Selatan sering pula disebut sebagai Daerah Batang Hari Sembilan, karena dikawasan ini terdapat 9 sungai besar yang dapat dilayari sampai jauh ke hulu. Yaitu, sungai musi, Ogan, Komering, Lematang, Kelingi, Rawas, Batanghari Leko dan Lalan serta puluhan lagi cabang-cabangnya.

EventTO PALEMBANG...Jul 19, '07 12:46 AM
for everyone
Start:     Aug 11, '07 01:00a
End:     Aug 12, '07 8:00p
Location:     PALEMBANG, SUMATERA SELATAN
This trip has been cancelled for couple of time.....Now the schedule is on....

Ke Palembang nih weekend ini....waktunya juga gak banyak......
brangkat sabtu pagi pulang minggu sore....

ada yang punya ide gak??
di Palembang ada apa aja??

tempat wisata?? pantai? gunung? museum? bangunan tua?? kuliner?? ato apalah...

Photo AlbumKUALA LUMPUR IN A GLANCE (11 photos)May 2, '07 2:37 PM
for everyone

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help