Charlie's posts with tag: bengkulu
bengkulu humanitarian aid 2nd - 15Mb.wmv (29.9 MB)
journey to the center of sumatera earthquake 2nd - 15Mb.wmv (56.4 MB)
 Residen Thomas Parr (1705-1707) adalah penguasa Inggris kelima puluh satu yang diangkat pemerintah Inggris, Parr sampai di Bengkulu tanggal 27 September 1805, menggantikan Walter Ewer. Thomas Parr dikenal sebagai penguasa Inggris yang angkuh dan ganas, dia adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi dengan tanaman paksa di Bengkulu. Kekejaman dan keangkuhan Thomas Parr tidak saja dirasakan oleh penduduk pribumi tapi juga oleh orang-orang Bugis yang bekerja pada kompeni Inggris, bahkan juga dirasakan oleh pejabat Inggris lainnya. Parr juga dianggap terlalu jauh melangkah mencampuri urusan kepemimpinan tradisional dan adat masyarakat Bengkulu, seperti membuat pertentangan antara rakyat dengan pangeran Sungai Hitam serta peradilan. Puncak dari kebencian rakyat Bengkulu akhirnya tidak terbendung lagi pada malam 23 Desember 1807, Thomas Parr yang berada di rumah peristirahatannya Mount Felix tiga mil arah Selatan Marlborough dihabisi masa rakyat dibawah pimpinan Depati Sukarami, Depati Pagar Dewa dan Depati Lagan. Kesaksian dari isteri Parr menyebutkan tiga orang yang masuk kerumah membunuh Parr, asistennya Charles Murray yang berusaha melindungi majikannya terluka dan akhirnya meninggal, sementara dia sendiri hanya terluka. Dari kesaksian isteri Parr jelaslah bahwa tujuan penyerang hanyalah Thomas Parr. Sebagai pembalasan Inggris bertindak keji dan membabi buta, menghancurkan dusun-dusun di Sukarami, Pagar Dewa dan Lagan tanpa prikemanusiaan, bukan saja penduduk yang menjadi sasaran hewan ternakpun tidak luput dari amukan tentara Inggris yang kehilangan kendali. Pada tahun 1808 Inggris mendirikan Monumen untuk memperingati Thomas Parr yang terletak 100 meter dari Benteng Marlborough, dalam pembangunannya rakyat dipaksa dengan kekerasan agar pembangunannya dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Luas bangunan tugu ini seluas 70 meter persegi, tinggi 13,5 meter persis di depan kantor Pos Bengkulu. Monumen ini oleh rakyat Bengkulu disebut dengan Kuburan Bulek . Inggris mendirikan monument ini sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap Thomas Parr sementara bagi rakyat Bengkulu ditafsirkan sebagai penghargaan terhadap para pejuang tak dikenal yang telah mati dalam mempertahankan hak dan kemerdekaaan tanah leluhurnya dari penindasan kolonial Inggris. Kuburan Bulek ini juga merupakan simpul persatuan rakyat Bengkulu dalam melakukan protes dan air mata darah orang Bengkulu yang telah ditumpah paksakan oleh kesemenaan Inggris, juga merupakan tonggak sejarah yang mengandung nilai historis yang tidak ternilai bagi generasi sekarang. Makam Thomas dan para asistennya  di semayamkan di dalam Benteng Marlborough, yang katanya memang di pindahkan dari tempat asal mulanya untuk menghindari amarah rakyat Bengkulu saat itu yang membongkar makam tersebut
|  | Images courtesy by Radiana 'Ipaq' Mahaga |
|  | Satu jam sebelum mencapai Desa Urai dapat ditemui Desa Serangai. Sebagian besar warga di Desa Serangai berprofesi nelayan yang bermukim persis ditepi pantai. Pada saat gempa terjadi banyak rumah tinggal dan fasilitas sekolah yang rusak berat. Saat bencana warga diungsikan di Posko Bantuan Bencana dipusatkan yang berada di atas bukit yang berjarak kira2 200 meter.
Pada saat pengiriman bantuan ke ini tim WCC menghadapi kendala mental penduduk dan pejabat lokal yang sangat tidak kooperatif. Namun setelah negosiasi yang alot akhirnya bantuan yang kami bawa bisa diserahkan, dan diterima oleh Ex. Sekretaris Posko Bantuan Bencana.
image courtesy by Radiana 'Ipaq' Mahaga. |
|  | Lokasi Desa Urai dapat ditempuh dengan waktu 3 jam kearah utara dari kota Bengkulu, melalui jalur lintas barat [JALINBAR]. Kebanyakan penduduk [65KK] adalah petani kelapa sawit yang berasal dari transmigran asal P. Jawa sejak awal tahun 80-an, mereka sebenarnya juga adalah pindahan dari trans Palembang sebelum di relokasi ke Desa Urai.
Awalnya, daerah ini adalah hutan belantara yang setelah melalui waktu yang cukup panjang telah berubah menjadi kawasan pemukimam yang produktif dan perekonomiannya meningkat, apalagi pasaran harga kelapa sawit meningkat pada saat ini. Konon, pada saat warga tiba disini, mereka harus tinggal dibawah jempabatn untuk berlindung sementara sebelum akhitnya mereka benar-benar bias menempati rumah yang layak.
Dampak gempa yang menggoyang wilayah ini telah menyebabkan banyak rumah penduduk hancur, dan sebuah Pondok Pesantren hancur berat. Bahkan. Setelah gempa banyak juga warga yang tidak mampu membangun kembali rumahnya.
Kegiatan belajar-mengajar Pondok Pesantren Darunnaja [Iptidaiyah, Tsanawiyah, Alliyah] terpaksa terhambat. Mayoritas murid [130 orang] berasal dari berbagi pelosok; Jambi, Padang, Palembang, dan sekitarnya, merekapun sekarang ini menempati barak-barak sementara untuk tinggal dan belajar. Fasilitas ruang kelas, computer, dan kegaitan belajar lainnya tidak dapat terlaksana sebagaimana mestinya. |
|  | FORT Marlborough dibangun Perusahaan India Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Benteng ini mengahadap selatan dan memiliki luas 44.100 meter persegi. Bentuk benteng abad XVIII (1914) ini menyerupai kura-kura. Pintu utama dikelilingi parit luas dan tersambung dengan jembatan ke gerbang dalam. Menurut masyarakat sekitar, benteng ini memiliki pintu keluar bawah tanah.
Fort Marlborough adalah peninggalan terbesar Inggris terbesar di Indonesia. Benteng Marlborough sesungguhnya bukan sekadar benteng pertahanan militer, karena ia dibangun demi kepentingan perdagangan; penjamin kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East India Company, serta pengawasan jalur pelayaran dagang melalui Selat Sunda. Benteng berperan ganda: markas pertahanan militer sekaligus kantor pusat perdagangan dan pemerintahan Inggris.
Bengkulu merupakan ibu kota wilayah presidensi (kumpulan wilayah residen) Inggris di pesisir barat Sumatera. Wilayah itu dikendalikan dari Benteng Marlborough. Inggris sebelumnya juga membangun benteng serupa dengan fungsi dan peran lebih besar di Madras, India, yaitu Fort St George. Dari Madras inilah, East India Company mengembangkan pengaruh ke Asia Pasifik, termasuk Bengkulu.
Fort Marlborough dihuni oleh pegawai sipil dan tentara Inggris. Dalam catatan British Library, Oriental and India Office Collections tahun 1792 terdapat 90 pegawai sipil dan militer tinggal dan bekerja dalam Benteng Marlborough. Para petinggi atau perwira senior tinggal dalam lingkungan benteng bersama keluarga. Benteng ini menyerupai hunian dalam kota kecil dengan tembok tebal. Seperti layaknya kehidupan bermasyarakat, catatan-catatan menyangkut perkawinan, pembaptisan, dan kematian "penduduk" benteng ini pun masih dapat tersimpan.
Desain tata ruang Benteng Marlborough mencerminkan keragaman aktivitas masyarakat. Kompleks bangunan ini 44.100,5 meter persegi, tetapi total bangunan dalam benteng hanya sekitar 20 persen. Bagian benteng selebihnya berfungsi sebagai ruang terbuka. Bangunan fisik Benteng Marlborough sangat kokoh, antara lain terbukti ketika gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter meluluhlantakkan ribuan bangunan gedung dan permukiman Bengkulu tahun 2000, benteng ini tak mengalami kerusakan berarti. Padahal, konstruksi benteng ini tidak menggunakan beton bertulang.
Desain dasar Benteng Marlborough berbentuk segi empat. Desain ini menyerupai kura-kura, ditandai dengan empat bagian bangunan menyudut seperti kaki, serta satu kelompok bangunan menyerupai bagian kepala kura-kura. Bagian atas bangunan ini tersambung melingkar menjadi pelataran penempatan meriam, sekaligus mempermudah mobilitas perpindahan meriam. Ciri lain benteng pertahanan ini adalah dua lapis dinding pertahanan, sehingga ketika dinding terdepan bisa ditembus lawan, pasukan bisa segera mundur dan melakukan pertahanan dari dinding kedua. Pembangunan benteng tahap pertama selesai 1718 dengan gerbang utama benteng di sisi barat. Bagian bangunan menyerupai kepala kura-kura kemudian ditambahkan pada 1783. Dengan penambahan ini sistem pertahanan gerbang benteng menjadi berlapis. Kekokohan benteng tergambar dari ketebalan dinding bagian luar setinggi 8,65 meter dan ketebalan tiga meter. Sementara tebal dinding dalam sekitar 1,8 meter. Bahan bangunan antara lain batu karang, batu kali, dan bata dengan perekat campuran kapur, pasir, dan semen merah.
Untuk memasuki benteng dari gerbang utama, kita harus melewati dua jembatan yang menyeberangi parit-parit kering. Parit itu berkedalaman sekitar 1,8 meter dengan lebar 3,6 meter. Jembatan-jembatan kayu di atas parit kering itu aslinya tidak pernah permanen agar dapat diangkat dalam menghambat gerak musuh. Selepas gerbang pertama, kita akan menyusuri lorong pendek dengan langit-langit melengkung. Empat buah batu nisan besar tertempel pada salah satu sisi bangunan lengkung ini. Batu-batu nisan ini merupakan tugu peringatan kematian sejumlah petinggi benteng, antara lain Deputi Gubernur Inggris Richard Watts—meninggal pada 1705. Meskipun tugu peringatan berbahasa Inggris itu tertulisdalam huruf bergaya kuno, tetapi sebagian besar masih terbaca dengan jelas.
Keluar dari bangunan lengkung selepas pintu masuk ini, kita akan menyusuri alur jalan pada ruang terbuka menuju jembatan kedua. Di sisi selatan jalan itu berjajar tiga buah makam, satu di antaranya makam Residen Thomas Parr—terbunuh Desember 1807. Adanya pemakaman itu menunjukkan fungsi benteng menampung seluruh aktivitas penghuni sejak lahir hingga meninggal. Melalui jembatan kedua berketinggian 3,25 meter dari dasar parit di bawahnya, sampailah pada pintu gerbang yang dikenal sebagai the great gate (gerbang utama). Daun pintu kayu pada gerbang kedua ini masih utuh meskipun sudah berumur hampir 300 tahun. Daun pintu ini memakai jenis kayu kapur konon berasal dari Kalimantan.
Tiga ruangan kita jumpai di sebelah kiri begitu melewati the great gate dulu difungsikan sebagai kediaman para perwira. Ruangan-ruangan ini pada 1873 difngsikan sebagai gudang senjata. Ruang pertama menyerupai lorong sepanjang 13,5 meter dengan lebar sekitar lima meter. Di dalamnya terdapat tiga "anak ruangan" berukuran sekitar 1,5 meter x 4,5 meter. Ruang ini seakan menyerupai lemari beton tebal. Di ujung lorong terdapat pintu turun menuju ke ruang bawah bangunan benteng. Gelap dan lembab pada ruang-ruang bawah memberi kesan penyusuran bagian benteng ini berbau petualangan. Ruang bawah ini disebutkan berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta.
Pada sisi lain gerbang masuk, kita akan menemui ruangan dengan fungsi ruang jaga utama maupun ruang penjaga benteng yang tidak sedang bertugas. Di bagian dalam, terdapat dua ruang tahanan militer. Pada salah satu bagian dinding ruang tahanan itu terlihat lukisan arang dan catatan dalam bahasa Belanda kuno, serta simbol kompas. Tulisan diperkirakan buatan tahanan dalam benteng.
Di sepanjang sayap selatan Benteng Marlborough terdapat deretan ruangan barak tidur. Masing-masing ruang memiliki satu pintu menghadap ke halaman dalam benteng. Meskipun terbuat dari jeruji besi, pintu-pintu ini berdesain lengkung dan terkesan cantik. Desain lengkung juga terlihat pada bagian langit-langit ruangan. Kompleks perkantoran terdapat di sayap utara benteng. Sebelum tahun 1780-an, sisi utara benteng ini difungsikan menjadi ruang keluarga pejabat sipil senior serta tempat tinggal perwira lajang. Sementara gudang dan kediaman gubernur terdapat di bagian barat. Pada zamannya, benteng ini dikelola oleh dewan pimpinan terdiri dari deputi gubernur sebagai kepala wilayah pendudukan, komandan benteng sebagai pemimpin militer, dibantu oleh dua pejabat. Pejabat tinggi lainnya adalah semacam kepala perdagangan (senior merchant). Pada 1792, tercatat 18 atase perdagangan berkantor di Fort Marlborough. Beberapa kepala perdagangan ini juga menjabat sebagai kepala wilayah atau residen sejumlah kawasan sepanjang pesisir barat Sumatera, antara lain Manna, Lais, Natal, Tapanuli, dan Krui. Pada 1792 tercatat sembilan orang juru tulis bekerja dan tinggal dalam benteng. Teknisi, petugas kesehatan, pemain organ, hingga tukang kayu pun menghuni benteng ini.
Di tengah benteng, terhampar halaman dalam berumput hijau dengan beberapa pepohonan teduh. Halaman dalam cukup luas ini berfungsi bagi beragam kegiatan militer pada masa itu, misalnya upacara dan latihan keterampilan. Di lapangan ini pula dibacakan keputusan pengadilan dan kesaksian eksekusi militer. Sementara bagian halaman teduh oleh pepohonan dengan pemandangan laut lepas, menjadi tempat bersantai. Jalan setapak menghubungkan gerbang utama bagian selatan dengan gerbang utara terdapat di tengah halaman. Pintu gerbang sisi utara ini pun disambungkan dengan jembatan kayu ke luar lingkungan benteng.
Dari atas dinding benteng atau bastion, teramati hamparan laut lepas. Untuk menaikkan meriam pada posisi tembak di bastion, dibangunlah beberapa bidang miring dari susunan bata di sudut-sudut benteng ini. Di bastion, kita juga dapat mengamati saluran etalase ruangan-ruangan seperti cerobong. Mulut cerobong itu diberi payung kerucut terbuat dari seng sehingga udara dapat bersirkulasi, namun terlindung dari curahan air. Menjelajahi benteng ini tidak akan lengkap tanpa menyusuri lorong-lorong di bawahnya. Lorong-lorong bawah tanah sempit dan gelap ini konon merupakan tempat penyimpanan senjata. Juga terdapat lorong bawah tanah yang menyambungkan benteng dengan jalan keluar tanpa melewati pintu-pintu gerbang.
Info tambahan: Benteng Marlborough ini adalah benteng Kerajaan Inggris terbesar di Asia Tenggara, juga digunakan sebagai basis militer Inggris untuk agresinya ke Singapura pada saat itu.
Di sisi barat luar benteng terdapat perkampungan kelompok etnis Cina (China Town) yang keberadaan mereka memang sudah diperhitungkan olhe pemerintah Inggris pada saat membangun benteng tersebut. Keberadaan mereka untuk menunjang tujuan perdagaangan di wilyah Bengkulu, bahkan tetap berlangsung hingga saat ini.
Tulisan ini dikutip dari http://mahmudiono.multiply.com/journal/item/39/, dan image courtesy dari givangkara.multiply.com/photos/album/100/ serta image contributor oleh Radiana ‘Ipaq’ Mahaga |
|  | Kota Curup, ibukota Kabupaten Rejang Lebong terletak sekitar 85 Km di timur laut kota Bengkulu adalah sebuah kota kecil yang terletak di suatu lembah di kaki pegunungan Bukit Barisan. Kawasan lembah di tempat ini merupakan salah satu sumber air bagi Sungai Musi yang mengalir hingga ke kota Palembang. Kota pegunungan yang berhawa dingin ini dapat dicapai dengan bis selama tiga jam yang berangkat dari pusat pasar kota Bengkulu.
Kondisi jalan antara Bengkulu dan Curup relative cukup baik, jalan ini menanjak melewati hutan di kawasan 138 pegunungan Bukit Barisan. Dari ketinggian bukit terlihat pemandangan kota Bengkulu dan Samudera Indonesia yang membentang luas menyajikan panorama yang indah.
Kawasan di sekitar Curup merupakan lahan pertanian yang menghasilkan padi dan sayuran seperti wortel dan kubis yang dijual di pasar kota Curup. Tempat-tempat penggilingan padi yang digerakkan dengan tenaga air dapat ditemui di kawasan persawahan di sekitar Curup. Penduduk di desa-desa di sekitar Curup ini masih tinggal di rumah adat panggung yang terbuat dari kayu.
Kota yang terletak ditengah-tengah antara kota Bengkulu dan Lubuk Linggau ini memiliki beberapa tempat menarik untuk dikunjungi. Tempat-tempat tersebut berada di sekitar Bukit Barisan antara lain: mata air panas dan air terjun yang berada di Suban, tempat ini dikenal dengan nama Lokasi Wisata Suban Air Panas.
Sarana yang dimiliki cukup lengkap yaitu kolam renang air panas, kamar pemandian air panas, kios cindramata dan fasilitas umum lainnya. Tempat ini cukup ramai dikunjungi orang pada akhir minggu. Dahulu, pada zaman Hindu kawasan ini digunakan sebagai tempat beribadah dan bersemedi bagi penganut agama Hindu.
|
|  | Pantai ini membentang sepanjang 7 km dengan pasir putihnya. Disepanjang pantai terdapat banyak pohon cemara dan beberapa rumah makan, side cottage dan kolam renang. Letak pantai sekitar 3 km dari pusat kota.
some images courtesy by Radiana 'Ipaq' Mahaga |
|  | Sungai Suci, suatu persinggahan untuk menikmati pemandangan indah dan menakjubkan.
|
|  | Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu terletak di Propinsi Bengkulu yang jaraknya dari Kota Bengkulu + 20 km ke arah Selatan. Pelabuhan ini mulai dibangun sejak 1980 dan secara operasional mulai dioperasikan pada bulan Juli 1984, yang berada pada posisi 030 47” 30” LS dan 1020 15” 04” BT. Pelabuhan Bengkulu merupakan salah satu Cabang di lingkungan PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia II. |
|  | Nama danau ini memang terasa aneh, menyeramkan dan belum seakrab danau-danau besar, seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Maninjau dan Danau Singkarak di Sumatera Barat dan Danau Ranau di Lampung.
Namun pesona Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) di Bengkulu ini tidak kalah indah dan eksotik. Memang, saat ini belum banyak wisatawan yang mengenal danau yang hanya berjarak sekitar 6 km dari pusat Kota Bengkulu itu.
Menilik dari namanya saja, Danau Dendam Tak Sudah sudah menyiratkan sebuah kisah tragis di baliknya. Nama danau ini diyakini terkait dengan legenda sepasang muda-mudi. Mereka mengikat janji sehidup semati, namun kisah asmara mereka tak kesampaian karena orangtua sang gadis tidak merestui. Dia dijodohkan dengan laki-laki lain, padahal benih-benih cinta di hati kedua remaja ini tidak bisa dipisahkan lagi.
Lalu kedua anak muda yang dimabuk asmara itu bunuh diri ke dalam danau. Konon sejak itu di dalam danau terdapat dua ekor lintah besar, yang merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut.
Di masa Belanda, danau ini kemudian dibuat dam, agar lebih tertata dan tidak mudah meluap serta memudahkan pembuatan jalan. Bukti-bukti dam itu bisa terlihat hingga kini. Namun setelah merdeka pembangunan dam terbengkalai. Dam yang tak selesai itu menginspirasikan warga setempat untuk menamainya menjadi Dam Tak Sudah dan kata "Den" di depan kata "Dam" hanyalah merupakan "kerancuan" yang sengaja ditimbulkan untuk menggelitik rasa ingin tahu.
Danau seluas 37,50 hektare itu memiliki keunikan yang tidak dimiliki danau lainnya. Di bawah Danau Dendam Tak Sudah, konon terdapat gunung berapi.
Danau ini juga memiliki berbagai flora unik, yakni anggrek Pensil (vanda hookeriana), yang diyakini hanya tumbuh di kawasan ini. Flora unik yang lain adalah anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, ambacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis dan sikeduduk.
Panorama di kawasan danau juga sangat indah. Sejauh mata memadang, pengunjung akan dimanja lanskap Bukit Barisan yang membiru dan terlihat sayup-sayup di kejauhan.
Di seputar danau kini menjadi kawasan cagar alam karena menjadi plasma nuftah bagi anggrek pensil. Juga ditemukan berbagai fauna seperti kera ekor panjang, lutung, burung kutilang, babi hutan, ular phyton, siamang, siput dan berbagai jenis ikan termasuk ikan langka seperti kebakung dan palau.
Perambahan cagar alam telah mencapai 70 persen dari luas kawasan, terutama di sepanjang kiri jalan air Sebakul-Desa Nakau. Perambahan ini telah mengancam kondisi fisik kawasan serta sejumlah flora dan fauna yang kini mulai sulit ditemui.
Beruntung, anggrek pensil yang merupakan flora unggulan Danau Dendam Tak Sudah, hingga kini masih bisa dinikmati pengunjung. Anggrek dengan bunga putih dipadu warna ungu dan bintik-bintik hitam, seperti dilansir Kapanlagi, selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke danau itu. Lutung dan kera ekor panjang pun terkadang masih bisa terlihat bergelantungan di pohon-pohon. Namun fauna lain, kini mulai jarang ditemui.
Kini danau tersebut juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area). Kawasan ini merupakan penyuplai sebagian besar air untuk petani di kota Bengkulu serta penyimpan cadangan air tanah.
Cagar Alam Dusun Besar tempat danau ini berada memiliki topografi wilayah 0-8 persen. Ketinggian kawasan ini dari permukaan laut kurang lebih 15 meter. Bentukan lahan dari batuan yang menyusun kawasan terdiri dari batuan neogin (Pliosin dan Miosin).
Di kawasan danau, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan alam berupa permukaan danau yang terlihat kemerahan ditimpa sang surya menjelang beranjak keperaduannya. Atraksi matahari terbit disertai udara pagi yang bersih serta semburat warna merah di permukaan danau menjelang malam sangat ideal bila diabadikan dari lensa kamera.
Keasrian danau serta lingkungan cagar alam yang luas merupakan potensi bagi wisatawan minat khusus untuk melakukan pendidikan dan penelitian. Di lokasi ini, pengunjung juga bisa berperahu dan menggunakan rakit ke seluruh penjuru danau, dan memancing.
Beberapa warga di seputar danau menyediakan pondok-pondok yang menawarkan berbagai jenis makanan seperti jagung bakar dan kelapa muda. Beberapa makanan khas Bengkulu seperti perut punai, lempuk dan kue tat juga bisa dibeli di sekitar lokasi. |
|  | Kota Bengkulu mungkin tidak lebih besar dari Jakarta Pusat, sehingga menebar virus ini tidaklah sulit dan dalam waktu relatif singkat sudah terasa existence-nya.
Di satu RM Padang kami bertemu dengan rombongan geo-researcher dari Jepang, dan kata salah seorang diantaranya tentu dalam bahasanya;"Ini optimisme yang positif, walaupun bencana tapi pariwisata tetap jalan.,,ne" |
journey to the center of sumatera earthquake - 15Mb.wmv (57.8 MB)
|  | Day 1. Persiapan packages & Keberangkatan ke Lais Pagi itu jam 08:00 WIB nampak penghubung kami Sdr. Asep dari perwakilan WCC-Bengkulu sudah melambaikan tangannya saat saya dan Radiana ‘Ipaq’ Mahaga tiba di Bandar Udara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Kedatangan kami langsung disambut dengan guncangan tanah yang ringan, katanya Asep:”Ini sudah menjadi sarapan orang Bengkulu setiap hari”.
Setibanya di rumah Ibu Ismariah (Ibunda Asep), kami langsung disibukan dengan persiapan pengepakan 60 paket bantuan yang terdiri: beras, gula pasir, kecap manis, sarden, susu bubuk, biskuit, sarung, peci dan mukena.
Perencanaan survey pun juga kami diskusikan, dan mendapat masukan dari Ibu Ismariah dan beberapa teman (Wawan, Anto & Sarmen). Jam ditangan sudah menunjukan pukul 11:30 WIB, tim yang beranggotakan 6 orang pun bergerak ke lokasi bencana. Dengan menggunakan satu jip Taft dan satu Isuzu Panther dengan bak terbuka terisi penuh dengan logistik bantuan yang akan dikirim. Jarak yang akan kami tempuh antara Bengkulu ke Muko Muko adalah 270KM, dan dengan perjalanan normal akan memakam waktu 6-7 jam. Namun, dengan pertimbangan banyak jalan yang rusak dan kami pun harus banyak berhenti untuk melakukan survey, maka waktu tempuh akan mencapai 12 jam.
LAIS – 60KM dari Bengkulu, masuk dalam area Kabupaten Bengkulu Utara, dampak bencana sangat terasa disini. Sebelum memasuki kota Kecamatan Lais kami disuguhkan dengan pemandangan yang mengenaskan, layaknya pasca perang gerilya, banyak rumah dan fasilitas umum yang rusak berat. Tenda-tenda pengungsian pun banyak bertebaran disana.
Jelas terlihat banyaknya bantuan dari segala pihak (Unicef, Naluri Dunia, ACT, PMI, dll) yang berkumpul di Lais (Pusat Posko Bencana), maka kami pun hanya lewat saja dan tidak melakukan pemantauan.
Mendadak Asep menghentikan jip Taft-nya, ternyata yang kami saksikan adalah sebuah jembatan penghubung yang kondisinya terpisah menjadi 4 bagian. Jadi kendaraan pun yang lewat harus satu per satu...
Tujuan berikutnya Kecamatan KETAHUN (30-40KM dari Lais). Dalam perjalanan ini kami berhenti beristirahat di BINTUNAN, pesisir pantai terdekat dengan pusat gempa. Tampak jelas tebing dinding tepi pantai yang berwarna merah segar, yang runtuh ke dasar laut. Dan, kondisi jalan aspal yang rusah parah.
Sepanjang 10KM kondisi jalan aspal semakin parah. Terdapat landasan aspal yang terpisah (sesar vertical) kira 50-70 cm, adalagi jalan aspal yang memang terputus sama sekali, sehingga angkutan truk pun sulit untuk dilalui bahkan ada yang hampir terbalik.
Dengan kondisi jalan seperti ini dapat dipastikan menghambat laju pengiriman distribusi logistik ke daerah bencana tentunya.
Jam 15:30 WIB rombongan tiba di Sengarai (326 jiwa) dan di S. Urai (244). Dua lokasi korban bencana yang tidak mendapat perhatian dari para donatur maupun pemerintah. Hanya terlihat bantuan kantong air bersih dari PDAM setempat. Kondisi disana banyak rusak parah mulai dari rumah tinggal, puskesmas, sarana ibadah dan sekolah. Berbagai jenis penyakit pun banyak beredar mulai dari disentri hingga malaria.
Setelah menurunkan sebagian bantuan logistik di kedua lokasi ini dan memperoleh langsung dari para korban bencana, rombongan pun melanjutkan perjalanan ke Muko Muko yang masih harus ditempuh dalam 6 jam, melalui Kecamatan Ketahun, Seblat, Medan Jaya. Di tengah perjalan kami berhenti sejenak untuk berbuka puasa dan makan malam...
Tiba di MUKO MUKO Tepat pukul 12 malam kami tiba di Muko Muko, dan kami disambut Bapak Zaidin (Pamannya Wawan, salah satu anggota tim), kami ber-6 pun langsung istirahat karena rasa penat tidak terbendung lagi....
Good Night.....
Note: *Bpk Zaidin ini akhir kami ketahui adalah Kepala Adat se Kabupaten Muko Muko. Di Muko Muko terapat 9 kelompok suku local dengan dialeknya yang berbeda-beda, dan beliau dikenal sebagai Kepala Suku yang disegani se Muko Muko ini....
Day 2. Bincang-bincang dengan Pak Zaidin, Sang Kepala Suku. Bangun pagi saya dan Ipaq membuat rangkuman perjalanan kemarin. Kami berdua berencana untuk mengunjungi dua lokasi parah akibat gempa yaitu: di perkampungan nelayan Muko Muko dan Kelurahan Sukamaju di perbukitan.
Atas saran Pak Zaidin, rombongan kami yang bergerak pagi itu jam 09:00 WIB dikawal oleh 2 orang preman untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama kami melakukan survey dan pendataan di kampung nelayan. Dan sangat disarankan untuk tidak memberikan bantuan yang hanya ala kadarnya, karena akan menimbulkan kericuhan antara pihak kami dengan warga maupun warga dengan warga.
Sebagimana diberitakan di media massa bahwa derah perkampungan nelayan ini dikenal daerah yang tidak ramah terhadap pendatang apalagi semasa bencana ini berlangsung, hal ini pun diakui oleh Pak Zaidin sebagai Kepala adat.
Memasuki Kampung Nelayan Memasuki perkampungan nelayan, terasa benar suasana bencana tidak saja gempa tapi juga gelombong pasang setinggi 4-5 meter (warga lokal menganggap sebagai tsunami). Rumah tinggal, ratusan perahu nelayan rusak, fasiitas pelelangan ikan yang rusak parah. Dan nampak jelas mereka adalah warga yang lapar dan haus bantuan dari pemerintah serta pihak-pihak independen.
Kami pun turun dari mobil setelah mendapat instruksi dari sang preman, karena keadaan aman terkendali. Saya dan Ipaq pun dengan leluasa melakukan tugas kami masing-masing. Nampak dari mata dan wajah mereka yang suka dan tidak suka akan kehadiran kami berdua. Kami pun pindah tempat berhubung para Ketua RT setempat tidak berada di lokasi yang katanya lagi melaut, dan kami pun akhir bertemu dengan Pak Amin Ketua RT 03.
Tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan informasi dari Pak Amin, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kelurahan Sukamaju, dengan waktu tempuh hanya 45 menit.
Kunjungan ke Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Teras Terunjam – Daerah Transmigrasi. Keadaan bencana gempa pun kami rasakan, hanya saja warganya masih bersahabat. Kebanyakan dari mereka ada transmigran dari tanah Jawa dan Palembang. Kesedihan pun muncul disana, karena hingga saat ini warga di desa ini belum mendapat bantuan lanjutan, hanya segelas beras bantuan pemerintah untuk sekeluarga. Mereka pun tinggal di tenda-tenda darurat.
Disini kami menghabiskan seluruh logistik yang masih tersisa untu diberikan kepada warga Dusun 1, Kelurahan Sukamaju.
Kembali ke Bengkulu Jam tangan menunjukan pukul 14:00, rombongan kami bergerak kembali ke Bengkulu. Rombongan sempat mampir di Sebai, untuk membeli tajil untuk makanan buka puasa kami. Dan akhirnya rombongan mengakhiri perjalanan panjang ini dengan tiba di Bengkulu pada pukul 21:00, dan langsung makan malam...Jam 11:00 pun kami sudah tertidur lelap.
Day 3 Pesawat AdamAir pun menunggu kami untuk brangkat ke Jakarta tepat pukul 08:10
Ucapan Terima Kasih - Ibu Ismariah, Bengkulu - Pak Zaidin-Muk Muko - Asep, Wawan, Anto & Sarmen (Rep. WCC-Bengkulu) Courtesy Photography by Radiana Mahaga & Charlie Tendean, Videography submitted separately.
‘TUGAS KAMI BELUM BERAKHIR, BENGKULU MASIH MENANTIKAN ULURAN TANGAN KITA SEMUA’ |
| Start: | Nov 23, '07 06:00a | | End: | Nov 26, '07 | | Location: | BENGKULU, SUMATERA |
Menjelang Ramadan tahun ini bangsa Indonesia disentak dengan gempa tektonik yang berkekuatan 7,9SR terjadi di Bengkulu pada tanggal 11 September 2007, tepat pada pukul 18:10WIB. Gempa tersebut mengakibatkan korban materi dan jiwa, serta kerusakan infrasturktur yang memprihatinkan. Setelah Humanitarian Aid untuk Gempa Jogjakarta, Tsunami Pangandara & Longsor Gn. Pancar, White Collars Care (WCC) tergerak melakukan satu kegiatan sosialnya kembali, untuk membantu meringankan beban penderitaan para korban bencana tersebut. Konkrit pelaksanaan direncanakan sebagai berikut: Tahap Penjajakan (Survey Lapangan), 22-24 September 2007. Survey lapangan bertujuan mendapatkan informasi aktual langsung di daerah korban bencana. Kegiatan in akan memfokuskan pada daerah yang mengalami kerusakan dan korban manusia terparah, yaitu; Kecamatan Lais, Ketahun, Putri HIjau. Target kerja yang akan dicapai adalah: jumlah KK yang tertimpa bencana, pemetaan lokasi bencana, transportasi, logistic & procurement, penghubung WCC, dll Berdasarkan hasil survey WCC akan merangkum ‘Assessment Report’ sebagai bahan untuk menyiapkan ‘Program Plan’ untuk penyaluran bantuan. WCC membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin menyalurkan bantuan baik dalam bentuk dana maupun natura/barang. Bantuan dalam bentuk dana dapat ditransfer ke rekening White Collars Care, di BCA Cabang Wisma GKBI No. Rek. 006032007, a/n Radiana Mahaga/Metty Dewi. Sedangkan bantuan dalam bentuk natura/barang dapat dikirim ke Perwakilan WCC di Bengkulu, ditujukan kepada Sdr. Asep (HP: 0852 1644 3934/ R:0736 22520), Jl. Danau No. 45-Bengkulu. Baik bantuan dana maupun natura/barang sudah kami terima paling lambat hari Jumat, 21 September 2007. Tahap Pengumpulan Bantuan Setelah assessment dan Plan Report selesai dirancangkan, WCC akan mengajukan proposal untuk pengumpulan dana dari para sponsor institusional. WCC membuka diri untuk menerima sponsor dari berbagai pihak baik sponsor institusi yang selama ini sudah bekerjasam dengan WCC, maupun perusahaan yang akan bekerjasama. Tahap Pelaksanaan Distribusi WCC merencanakn pendistribusian yang disampaikan langsung kepada para korban bencana pada tanggal 19-21 Oktober 2007. Teknis pendistribusian akan dijelaskan dalam proposal sponsorship. Atas partisipasi teman-teman kami ucapkan terima kasih. White Collars Care a/n. Charlie T. (08129555337) & Radiana M. (08161100108) Sekretariat White Collars Care: Jl. Pulo Raya IV No. 16, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telpon 021 7396681
| Start: | Sep 22, '07 06:00a | | End: | Sep 24, '07 10:00a | | Location: | BENGKULU, SUMATERA |
Menjelang Ramadan tahun ini bangsa Indonesia disentak dengan gempa tektonik yang berkekuatan 7,9SR terjadi di Bengkulu pada tanggal 11 September 2007, tepat pada pukul 18:10WIB. Gempa tersebut mengakibatkan korban materi dan jiwa, serta kerusakan infrasturktur yang memprihatinkan. Setelah Humanitarian Aid untuk Gempa Jogjakarta, Tsunami Pangandara & Longsor Gn. Pancar, White Collars Care (WCC) tergerak melakukan satu kegiatan sosialnya kembali, untuk membantu meringankan beban penderitaan para korban bencana tersebut. Konkrit pelaksanaan direncanakan sebagai berikut: Tahap Penjajakan (Survey Lapangan), 22-24 September 2007. Survey lapangan bertujuan mendapatkan informasi aktual langsung di daerah korban bencana. Kegiatan in akan memfokuskan pada daerah yang mengalami kerusakan dan korban manusia terparah, yaitu; Kecamatan Lais, Ketahun, Putri HIjau. Target kerja yang akan dicapai adalah: jumlah KK yang tertimpa bencana, pemetaan lokasi bencana, transportasi, logistic & procurement, penghubung WCC, dll Berdasarkan hasil survey WCC akan merangkum ‘Assessment Report’ sebagai bahan untuk menyiapkan ‘Program Plan’ untuk penyaluran bantuan. WCC membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin menyalurkan bantuan baik dalam bentuk dana maupun natura/barang. Bantuan dalam bentuk dana dapat ditransfer ke rekening White Collars Care, di BCA Cabang Wisma GKBI No. Rek. 006032007, a/n Radiana Mahaga/Metty Dewi. Sedangkan bantuan dalam bentuk natura/barang dapat dikirim ke Perwakilan WCC di Bengkulu, ditujukan kepada Sdr. Asep (HP: 0852 1644 3934/ R:0736 22520), Jl. Danau No. 45-Bengkulu. Baik bantuan dana maupun natura/barang sudah kami terima paling lambat hari Jumat, 21 September 2007. Tahap Pengumpulan Bantuan Setelah assessment dan Plan Report selesai dirancangkan, WCC akan mengajukan proposal untuk pengumpulan dana dari para sponsor institusional. WCC membuka diri untuk menerima sponsor dari berbagai pihak baik sponsor institusi yang selama ini sudah bekerjasam dengan WCC, maupun perusahaan yang akan bekerjasama. Tahap Pelaksanaan Distribusi WCC merencanakan pendistribusian yang disampaikan langsung kepada para korban bencana pada tanggal 19-21 Oktober 2007. Teknis pendistribusian akan dijelaskan dalam proposal sponsorship. Atas partisipasi teman-teman kami ucapkan terima kasih. White Collars Care a/n. Charlie T. (08129555337) & Radiana M. (08161100108) Sekretariat White Collars Care: Jl. Pulo Raya IV No. 16, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telpon 021 7396681
| |